Share/Bookmark

K.H. RADEN AS'AD SYAMSULARIFIN

No comment yet
Foto Saya - TOKOH PANUTAN UMAT
Foto 15 dari 31 Kembali ke Album · Koleksi Foto Saya
SebelumnyaSelanjutnya



K.H. RADEN AS'AD SYAMSULARIFIN


Untuk menemui Presiden Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta, Kiai As'ad mengenakan piyama, sarung, serban, pici -- semua berwarna putih -- dan hanya bersandal jepit. Dalam kesempatan apa pun, ia memang biasa berpakaian begitu. Dan Pak Harto, setiap bertemu dengannya, selalu hangat menyalami.

Banyak pengamat menilai, Kiai As'ad adalah seorang di antara sedikit ulama yang sanggup menjembatani jika ada ''ketegangan'' antara pemerintah dan umat Islam -- khususnya dari golongan Nahdatul Ulama (NU). Ketika ribut-ribut soal buku PMP, 1982, tanpa banyak bicara, Kiai langsung menemui Pak Harto. Waktu itu ia mengatakan, ''Bagaimana, Pak, buku PMP ini 'kan bisa merusakkan akidah umat Islam.'' Berkata begitu, Kiai menunjukkan beberapa hal yang mestinya dikoreksi. Tidak berapa lama kemudian, masih di tahun itu juga, buku itu akhirnya disempurnakan.

Toh, Kiai yang sudah belasan kali ke Mekkah -- tanah tempat ia lahir, sewaktu ayahnya, K.H. Syamsul Arifin (ulama besar dari Madura), berhaji di tahun 1897 -- ini selalu menekankan, ''Saya ini bukan orang politik. Saya orang pesantren.''

Ia juga panutan utama NU. Ia yang langsung bicara pada Presiden Soeharto, ketika organisasi tersebut menerima asas tunggal Pancasila. ''Ini penting ditegaskan, karena NU sejak semula berlandaskan Pancasila dan UUD ཀྵ,'' katanya, 1983. ''Islam wajib menerima Pancasila, dan haram hukumnya bila menolaknya. Sila pertama itu selaras dengan doktrin tauhid dan Qulhuallahu Ahad.''

K.H. Hasjim Asj'ari, salah satu pendiri NU, menjelang wafatnya, ''Menitipkan NU kepada saya,'' tutur As'ad. ''Karena itu, saya merasa mempunyai tugas dan tanggung jawab besar untuk kejayaan dan keutuhan Jam'iyyah Nahdatul Ulama.'' As'ad sempat mengenyam pendidikan di Pondok Tebuireng ketika masih dipimpin pendirinya, K.H. Hasjim Asj'ari. Dan menjelang berdirinya NU, 1929, As'ad juga menjadi salah satu -- dari sekian banyak -- kurir gurunya itu.

Menginjak usia ke-11, anak sulung ini diajak ayahnya menyeberang -- dari Madura -- ke Jawa, untuk membabat hutan yang waktu itu terkenal angker di sebelah timur Asembagus, Jawa Timur. ''Dulu tidak ada manusianya, kecuali harimau dan ular,'' tutur As'ad. Setelah berjuang enam tahun, dibantu beberapa pengikut, akhirnya di tempat itu bisa didirikan sebuah pesantren (dan kawasan untuk bercocok tanam) -- kemudian bernama Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Desa Sukorejo.

As'ad berusia 16 ketika oleh ayahnya dikirim untuk mendalami agama ke Mekkah -- bersama satu-satunya adiknya, Abdurrahman (yang di kemudian hari, setelah dewasa, meninggal di Arab Saudi). Hanya tiga tahun di sana, ia balik ke tanah air, dan tetap meneruskan belajar di berbagai pondok.

Selama di beberapa pesantren itu, bukan cuma agama yang ia tekuni. Tetapi juga ilmu silat dan ilmu kanuragan (kekuatan fisik). Maka, jangan heran jika ia, pada masa Revolusi Kemerdekaan, sanggup memimpin barisan Hisbullah Sabilillah -- yang konon sebagian anggotanya terdiri dari bekas bromocorah -- untuk melawan penjajah.

Anggota Konstituante (1957-1959) ini masih memimpin pesantrennya, yang terletak di atas tanah 7 hektar dengan jumlah santri 5.000-an orang. Meskipun demikian, beberapa urusan sudah ia delegasikan kepada K. Dhofir Munawwar, suami anaknya yang pertama.

Menikah (1939) dengan gadis asal Madura bernama Zubaidah -- wafat Desember 1983 -- As'ad diberkahi lima anak. Satu-satunya lelaki, yang galibnya meneruskan kepemimpinan pesantren, adalah yang bungsu, Ahmad Fawaid. Pada 1983, Ahmad masih 14 tahun -- dan seperti layaknya remaja umumnya,

Poskan Komentar

HOME | ABOUT

Copyright © 2011 PERMATA HATI | Powered by BLOGGER | Template by 54BLOGGER