Share/Bookmark

K.H. Zubair Dahlan

1 comment
Foto Saya - TOKOH PANUTAN UMAT
Foto 20 dari 31 Kembali ke Album · Koleksi Foto Saya
SebelumnyaSelanjutnya



K.H. Zubair Dahlan



Kehidupan Semasa Kecil

Rihlah K.H. Zubair Dahlan dalam Mendalami Ilmu Agama

Selang beberapa waktu berlalu, beliau kembali ke tanah Jawa bersama sang paman, Kyai Imam Kholil. Namun, pendalaman ilmu agamanya tidak cukup hanya sampai di situ saja. Meskipun sudah belajar di Makkah, beliau masih melanjutkan berguru kepada Syekh Al 'Alamah Kyai Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang. Di bawah bimbingan Kyai Faqih, beliau mempelajari berbagai bidang ilmu, diantaranya, kitab Tafsir, Jam'ul Jawami', Syarah Ummul Barahin (bidang aqidah). Pada kesempatan ini, beliau mendapatkan ijazah dari gurunya ini, yang termaktub dalam suatu kumpulan, yang diberi nama "Kifayatul Mustafid". Di sini dicatat sanad-sanad Kyai Zubair dari jalur Syaikh Muhammad Mahfud bin Abdullah At Turmusy.

Pada tahun 1371H, beliau berangkat ke Makkah Al-Mukarromah lagi bersama para jamaah haji dari Indonesia untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Pada waktu ini, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim, yang mulia Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliky. Dalam kesempatan ini beliau mengikuti majlisul ilmi yang diasuh Sayyid Alawy, yang bertempat di Babussalam (pintu yang berada di tempat sa'i). Beliau sangat kagum dengan apa yang disampaikan oleh Sayyid Alawy, karena penyampain Sang Sayyid disampaikan dengan bahasa yang fushah (ejaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab) dan ta'bir-ta'bir yang bagus. Dan pada waktu haji itu juga, beliau bertemu dengan seorang yang 'alim dari Indonesia yang telah menetap di Makkah, Syeikh Al 'Alamah Ustadz Yasin Bin Isa Al Fadany. Di sela-sela pertemuan yang singkat itu, beliau di ijazahi oleh Syaikh Yasin seluruh kitab yang telah beliau pelajari (Ijazah Muthlaq).

K.H. Zubair merupakan salah satu figur yang patut sebagai teladan kita semua, khususnya para santri. Di antara sekian banyak sifat-sifat beliau, ada beberapa yang menonjol, yaitu ketekunan dalam memperdalam pengetahuan agama, sifat lemah lembut dan mengasihi orang yang lemah dan orang-orang fakir. Selain itu, beliau juga sangat senang dengan santri, berpegang teguh dengan sunah-sunah dan sejarah-sejarah ulama' salafus sholih. Beliau juga sosok yang sangat menjauhi bid'ah-bid'ah yang melenceng dengan ajaran-ajaran syari'at Islam. Walaupun dengan kebencian ini, beliau akan mendapat gunjingan maupun celaan dari orang yang tidak menyukai apa yang dilakukan.

Setelah perjalanan panjang dalam pencarian pengetahuan agama ke berbagai daerah. Bertepatan dengan umur 23 tahun, beliau mulai ikut berpartisipasi mengajar di Pon-pes di daerah kelahirannya (Sarang). Santri-santri di sana sangat antusias ingin belajar kepadanya, dengan bukti pada waktu mengajar, tempat pengajian selalu penuh. Beliau mengaji meliputi kitab-kitab yang kecil, seperti Matan Taqrib, Jurumiyyah, Aqidatul Awam. Dan juga ada kitab-kitab yang besar seperti Jamiul Jawami', Tafsir Baidlowi, beserta kitab-kitab karya Imam Al-Mahalli.

Seluruh umur K.H. Zubair dicurahkan semuanya untuk mengajar ilmu-ilmu agama Islam. Dalam rutinitas tiap bulan Romadlon, beliau mbalah (membaca) Tafsir Jalalain. Prilaku ini merupakan kebiasaan tiap tahun. Menginjak umur yang makin sepuh (60 tahun), beliau lebih banyak membaca kitab-kitab di bidang tasawuf seperti kitab Minhajul 'Abidin, Kitab Hikam, dan Kitab Ihya' Ulumuddin yang menemani dan mengiringinya sampai beliau wafat.

Keluarga K.H. Zubair Dahlan

Pada usia 24 tahun, beliau menikah dengan putri sang paman (dari ibu), Mahmudah binti Kyai Ahmad bin Syua'ib. Dari pernikahan itu, beliau dikaruniai oleh Allah lima putra dan putri. Tapi, semuanya meninggal pada waktu masih kecil, kecuali satu yang masih hidup sampai sekarang, yaitu Syaikh K.H. Maimoen Zubair. Selang berapa tahun kemudian istri beliau meninggal. Tepatnya pada bulan Jumadil Akhir tahun 1358 H. Kemudian beliau menikah lagi dengan Aisyah binti Kyai Abdul Hadi dari keluarga Burna. Pada pernikahan kedua ini, beliau di karuniai lima putri, Halimah, Sai'dah, 'Afifah, Sholihah, Salamah, dan satu putra, yaitu K.H. Ma'ruf Zubair.

Karya-Karya K.H. Zubair Dahlan

Dalam kesibukannya setiap hari, KH. Zubair masih menyempatkan diri untuk mengarang beberapa kitab. Diantaranya, Kitab Manasik Haji, Nadlom Risalah As Samarqondiyah yang diberi nama Al-Qolaid Fi Tahqiqi Ma'na Isti'aroh, dan beberapa Nadloman mengenai Rumus-Rumus Fuqoha'. Beliau juga membuat beberapa Sya'ir mengenai etika, hisab dan lain sebagainya. Misalnya sya'ir dalam hal kesabaran dalam urusan rizqi:

لاَ تَعْجَلَنَّ فَلَيْسَ الرِّزْقُ بِالْعَجَلِ * اَلرِّزْقُ يَأْتِيْ بِلَا رَيْبٍ مَعَ الْأَجَلِ

فَلَوْ صَبَرْتُمْ لَكَانَ الرِّزْقُ يَأْتِيْكُمْ * لَكِنَّهُ خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Artinya;

Janganlah kalian tergesa-gesa tentang urusan rizqi, Karena rizki tidak datang dengan tergesa-gesa tanpa keraguan.

Apabila kalian bersabar, niscaya rizqi akan mendatangi kalian. Tetapi manusia diciptakan dengan (bertabiat) tergesa-gesa.

Pulang Ke Rahmatullah

Seperti keseharian yang dijalankan, yaitu mengajar ilmu-ilmu agama. Sehingga bertepatan dengan bulan Sya'ban, atas permintaan sebagaian santri, beliau meneruskan pembacaan kitab Ihya 'Ulumuddin juz ke-4. Kitab ini Alhamdulillah beliau khatamkan pada permulaan sepuluh hari terakhir pada bulan Sya'ban (21 sya'ban). Kemudian pada bulan Ramadlon, seperti rutinitas tiap bulan Ramadhan sebelumnya, beliau mbalah (membaca) kitab Tafsir Jalalain. Dan ini merupakan kitab terakhir yang dibaca sebelum wafat. Tiba-tiba pada tanggal 10 Romadlon beliau mengalami sakit panas. Sakit ini, makin lama semakin bertambah hingga akhir hayatnya. Ini bertepatan dengan terbenamnya sang surya pada malam Selasa setelah maghrib hari ke-15 bulan Ramadlon tahun 1389H, beliau wafat pada umur yang ke-65, hidup dengan sederhana dan meninggal dalam kesedarhanaan pula

1 comment

Dadan Ramdhani : 28 September 2016 17.41

assalamu'alaikum, izin copas tadz.

Poskan Komentar

HOME | ABOUT

Copyright © 2011 PERMATA HATI | Powered by BLOGGER | Template by 54BLOGGER