Share/Bookmark

K.H IDHAM KHALIQ

No comment yet


Mengenal Lebih Dekat Idham Chalid
Oleh: Akhmad Kusairi
Tidak bisa dipingkiri, Idham Chalid adalah sosok kontroversial yang sempat ada dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Perananannya dalam merintis Indonesia merdeka sudah tak dapat disangsikan lagi. Sebagai orang yang juga pernah menjabat Ketua umum PBNU terlama, membuatnya harus bisa bertahan dalam berbagai situasi sekaligus, sehingga mau tidak mau dia terpaksa menjalankan politik akomodasi. Namun sedikitnya tulisan atau depksripsi mengenai diri serta pemikirannya membuat banyak orang salah dalam memahami sikap-sikap socio-polticnya. Dia dianggap sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian. Lebih kasar lagi dia digambarkan sebagai bunglon yang selalu mengubah warna kulit politiknya, sehingga bisa beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu.
Betulkah segala yang disangkutkan padanya itu? Atau hanya riak-riak kecil yang tidak puas kepadanya? Berangkat dari anggapan yang keliru itu lah buku Idham Chalid: Guru Politik Orang NU karangan Ahmad Muhajir ini hadir di tengah sidang pembaca. Muhajir secara jeli menguak sisi ruang batin Idham Chalid yang tidak terekam oleh sejarah. Penulis buku ini dengan segala upaya mencoba meluruskan atau paling tidak memberikan sedikit gambaran sekaligus analisis seputar fakta pemikiran Idham Chalid yang selama ini dianggap sebagai tokoh yang oportunis.
Sebagai seorang tokoh nasional, Idham memerankan dua peran berbeda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai politisi, ia melakukan gerakan strategis, kompromistis, dan terkesan pragmatis. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dengan tetap tidak terlepas dari jalur Islam dan tradisi yang diembannya. Ia telah berusaha keras mengupayakan terbentuknya kestabilan kondisi umat di bawah (grassroot) yang menjadi tanggung jawabnya. Meski berbagai stereotip bakal menimpa, ia tak memedulikannya.
Dalam berpolitik yang terpenting menurut Idham adalah berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat. Oleh sebab itu, tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa itu (baca: demokrasi terpimpin) mengalami banyak tekanan keras dari pihak penguasa serta partai-partai politik radikal. Ia menggambarkan seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air. Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat and cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggeak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia (hal. 55).
Dalam ranah ini, Idham menganggap bahwa NU harus ikut serta dalam kekuasaan sebagai kekuatan penyeimbang. Cara ini menurutnya lebih tepat ketimbang berada di luar kekuasaan yang justru lebih menyulitkan untuk bergerak. Sikap-sikap seperti ini terlihat misalnya, ketika ia mengompromikan langkah pemerintah pada masa Orde Lama dengan Demokrasi Baru. Akan tetapi, ketidakmengertian tentang arah politik Idham tersebut, menyebabkannya harus tersingkir dan ter(di)lupakan begitu saja.
Idham dengan NU-nya sebenarnya selalu konsisten berpegang pada ideologi politik keagamaan yang sudah lama dianutnya. Ideologinya didasarkan pada fiqh Sunni klasik yang meletakkan prioritas tertinggi pada per-lindungan terhadap posisi Islam dan para pengikutnya. Ideologi ini menuntut kaum muslimin, terutama para ulama yang memimpin mereka, agar menjauhi segala bentuk aksi yang dapat mengancam kesejahteraan fisik dan spritual masyarakat (hal. 14).
Muhajir dalam buku ini akan lebih mengfokuskan pada pandangan-pandangan Idham mengenai Demokrasi Terpimpin serta faktor-faktor yang mendorong pandangan tersebut muncul. Menurut penulisnya, buku ini tidaklah dimaksudkan sebagai biografi politik Idham Chalid, tetapi hanya akan membahas fase paling penting dalam karir politiknya, yakni fase demokrasi terpimpin. Pada fase ini, ketangguhannya sebagai poltiisi yang memimpin sebuah partai sekaligus organiasasi keagamaan semakin diasah. Pada masa ini pula para pemimpin NU, terutama Idham, memperlihatkan kemampuannya melakukan proses penyesuaian diri beserta tafsir keagamaan yang mendasari setiap kebijakan yang diambil dengan perkembangan politik dalam negeri.
Alasan Idham mendukung Soekarno, terutama pada masa demokrasi terpimpin, adalah agar NU terus dapat bermain di tengah arena politik, walaupun tidak menjadi aktor utama. Pada masa itu, Idham menduduki posisi sebagai DPA, dan Front Nasional dan wakil ketua MPRS. Ali Haidar menjelaskan, meskipun politik akomodasi harus dilakukan, hal ini karena pertimbangan ketidaksiapan umat pendukung melakukan opsisi terhadap pemerintah. Akan tetapi, dalam berbagai hal NU mampu tampil dengan menggunakan posisi politiknya sebagai orang dalam pemerintah untuk melawan agitasi dan aksi sepihak PKI di banyak tempat, suatu hal yang menurut NU tak mungkin dilakukan jika NU melawan pemrintah, dicap kontra revolusi atau reaksioner.
Dalam bagian akhir, penulis menambahkan tulisan berisi sisi lain Idham Chalid yang hampir sepanjang pembahasan buku ini berperan sebagai politisi. Sisi yang dimaksudkan adalah citra keulamaan yang justru lebih dekat dalam ongatan banyak orang Banjar (Kalimantan Selantan), ketimbang deratan jabatan politik yang pernah diduduki Idham.
Beberapa karakteristiknya yang lain adalah penghormatan, dan penghargaannya begitu besar terhadap ulama baik yang pernah menjadi gurunya ataupun tidak. Ia juga sering digambarkan memilki kemampuan beradaptasi yang baik, sikapnya luwes dan cenderung menghindari konflik yang tak perlu. Ia juga memilki insting politik yang baik, pintar membaca angin dan karenanya cenderung pragmatis dalam bersikap. Perajalanan politiknya sering digambarkan seperti mendayung dalam taufan atau meniti buih.
Sikap-sikapnya yang disebutkan ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya, yang darinya Idham banyak menuai kritik. Karena sikap ini, Idham berada di posisi ketua umum PBNU dalam waktu yang lama, menadapt posisi di pemerintahan dan berbagai lembaga negara sejak orde lama hingga orde Harto. Di sisi yang lain para pengeritknya menganggap sikap ini tak layak dan seperti tidak memilki prinsip. Para pemimpin Ansor, misalnya menjulukinya politisi gabus karena apapun yang terjadi di sungai poitik dia selalu mengambang di atas. Mengenai keluwesan sikap Idham, mahbub Junaidi menyatakan kepada rekan-rekannya bahwa Idham akan dapat degan menjadi wakil perdana menteri dalam pemerintahan Aidit hingga Soekarno.
Latar belakang Idham yang seorang guru membuatnya santun dalam berpolitik, mampu tenang berhadapan dan berkerja sama dengan musuh politik seperti Aidit dengan PKI-nya. Ia juga sangat dipengaruhi Wahab Chasbullah, Rais 'Aam NU, yang perannya sangat kuat dalam pembentukan karakter NU dan arah kebijakan partai. Dominasi Wahab dalam partai selama akhir 1950-an memperlihatkan bahwa sikap pragmatis tidak hanya wajar secara politik, tetapi dibenarkan secara keagamaan (hal. 56-57).
Oleh sebab itu, buku ini diharapkan dapat menyingkap sisi senyap pemikiran Idham, sekaligus menambah deretan mozaik langkah para politisi NU dalam kancah politik yang kurang banyak diungkap ke permukaan. Buku ini, juga bisa digunakan sebagai napak tiilas perjalanan NU dalam mewujudkan strategi politik di masa lampau seiring semakin maraknya para ulama masa kini yang masuk ke ruang politik ketimbang ruang keumatan.
Muhajir dalam buku ini juga melakukan tinjauan terhadap literatur-literatur ilmiah tentang Idham Chalid, seraya menyediakan gambaran bagaimana Idham dipotret oleh para sarjana Indonesia dan Barat. Akan tetapi, bagian utama dari teks ini dipersembahkan untuk menjelaskan dan menganalisis pemikiran politik keagamaan Idham, terutama yang berhubungan dengan sikap-sikap NU dalam merespon Demokrasi Parlementer dan Demokrasi Terpimpin. Muhajir memusatkan diri pada penafsiran Idham mengenai konsep syura serta bagaimana tafsiran itu digunakan untuk menjustifikasi penerimaan ideologi semi-otoriter Demokrasi Terpimpin. Usaha muhajir tersebut yang berusaha menghadrikan sosok Idham dalam dua persspektif, Barat dan Timur tentunya menjadi nilai tambah dalam buku ini.
Buku setebal 169 halaman ini adalah upaya seorang Muhajir dalam menyingkap sisi senyap seoarang Idham. Karenanya tidak menutup kemungkinan ada usaha-usaha lain yang juga mencoba menyingkap sisi senyap tokoh kharismatik ini. Namun seperinya karena menggebu-gebunya dia dalam usaha itu sehingga dia terlalu berat sebelah terhadap tokoh yang dibandingkannnya. Terlepas dari titik lemahnya buku itu tetap layak untuk dibaca oleh siapa saja, sebagai suatu permulaan bagi terciptnya diskursus lebih lanjut seputar kiprah Idham Chalid serta perannya dalam sejarah perpolitikan bangsa.
Judul: Idham Chalid; Guru Politik Orang NU
Penulis : Ahmad Muhajir
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta
Cetakan I: Juni 2007
Tebal: xx + 169 Halaman
Sumber: Media Indonesia, 28 Juli 2007

Poskan Komentar

HOME | ABOUT

Copyright © 2011 PERMATA HATI | Powered by BLOGGER | Template by 54BLOGGER