Share/Bookmark

KH HOTIB UMAR

No comment yet
TOKOH PANUTAN

Dengan perjuangan gigih seluruh rakyat, akhirnya kemerdekaan Indonesia tercapai pada 17 Agustus 1945. Bagaimana Indonesia yang telah dijajah lebih dari tiga abad mampu membangkitkan kembali heroisme perjuangannya setelah tertidur sedemikian lama? Siapa yang berperan membangkitkan semangat itu? Dan seberapa besar jasa ulama atas kemerdekaan Bangsa ini? Ikuti wawancara M. Mahrus Ali dan Achyat Ahmad dari Buletin SIDOGIRI dengan KH Khotib Umar, Pengasuh PP Raudlotul Ulum Sumberwringin, Sukowono, Jember, salah satu ulama sepuh yang berpengaruh di Jawa Timur, yang di zaman kemerdekaan pesantrennya turut menjadi markas tentara pejuang.

Bagaimana jasa ulama terhadap kemerdekaan Bangsa Indonesia?

Tentu sangat besar jasa-jasa para kiai terhadap kemerdekaan bangsa ini. Pada zaman perjuangan dulu banyak kiai yang gugur demi memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Bukan hanya ulamanya, mereka juga mengerahkan santri-santrinya dan aktif mengajak masyarakat untuk bangkit berjuang melawan penjajah.

Seperti apa bentuk perjuangan yang telah dilakukan para kiai dulu?

Bentuk perjuangan para kiai bermacam-macam. Ada yang berbentuk memberi perlindungan terhadap rakyat dari serangan Belanda, mempertahankan desa-desa dari gempuran penjajah yang datang menyerang, bahkan tentara-tentara Indonesia juga berlindung di pesantren-pesantren.

Gambaran konkretnya?

Dulu kiai-kiai menjadikan pesantren-pesantren sebagai tempat perlindungan para tentara pejuang. Jadi, setelah para pejuang kemerdekaan dulu tersingkir dari kota-kota, mereka mengungsi ke desa-desa dan menjadikan pesantren sebagai basis pertahanan sekaligus juga pangkalan untuk menyerang. Seringkali serangan-serangan gerilya yang dilakukan pejuang dulu menjadikan pesantren sebagai pusat perjuangan. Mereka memulai serangan dari sana, dan setelah melakukan serangan mereka kembali ke pesantren lagi.

Di pesantren-pesantrenlah para pejuang menghimpun kekuatan, menyusun rencana serangan, bertahan, dan lain sebagainya. Para kiai pengasuh pesantren memimpin, memfasilitasi, dan menjadikan pesantrennya sebagai pusat perjuangan. Mungkin seandainya tidak ada kiai-kiai dan pesantren-pesantren, tentara-tentara Indonesia akan hancur, karena mereka tidak memiliki tempat berlindung, bertahan, dan menyusun kekuatan. Prinsipnya kiai dan pesantren di masa perjuangan dulu adalah pusat perjuangan Bangsa ini.

Bentuk perjuangan lainnya?

Ya banyak sekali. Waktu itu perjuangan kiai bukan hanya secara fisik, tapi kiai juga aktif dalam hal pembangunan, membantu rakyat, memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh penjajah, juga memberi suntikan-suntikan semangat agar semangat juang para pejuang kemerdekaan tetap menyala setiap waktu. Selain itu, para kiai juga membina akhlak masyarakat dan para pejuang.

Kiai-kiai dulu sangat aktif mengajak rakyat untuk berjuang merebut kemerdekaan. Buktinya, institusi semacam NU—tempat berkumpulnya para kiai-kiai se-Indonesia—melalui KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan seruan Resolusi Jihad yang mampu menggerakkan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, hingga terjadilah Peristiwa 10 Nopember yang sangat heroik itu. Juga di Jawa Barat, peristiwa Palagan Ambarawa juga digerakkan oleh ulama di sana.

Reaksi Belanda terhadap perlawanan para ulama?

Jelas, ulama adalah musuh mereka yang paling utama. Orang-orang Belanda itu dulu sangat takut terhadap pengaruh ulama. Mereka mencari-cari, memburu ulama ke mana-mana, sebab hanya ulama yang mampu mempengaruhi rakyat untuk bangkit berjuang. Jadi para ulamalah yang menjadi target utama serangan-serangan yang dilakukan oleh Belanda itu. Tentara Belanda sampai bertruk-truk masuk ke desa-desa, pesantren-pesantren, untuk mencari dan menangkapi para ulama. Sebab para ulamalah kunci penggerak perjuangan Indonesia, tanpa mereka perjuangan rakyat tidak akan bergerak.

Apa faktor utama ulama menggerakkan perjuangan?

Tentu yang paling besar adalah faktor agama dan agar rakyat Indonesia ini merdeka dari penjajahan kaum kafir. Mereka (penjajah, Red) adalah orang-orang yang zalim dengan menjajah Indonesia. Oleh karena itu, mengusir dan memerangi mereka termasuk jihad.

Seberapa besar seruan ulama untuk berperang mampu mempengaruhi rakyat?

Pengaruhnya sangat besar. Semua pertempuran yang terjadi antara pejuang melawan Belanda tak lepas dari peran ulama. Hampir semuanya dipengaruhi dan didorong oleh para ulama melalui seruan-seruan jihad mereka, lebih-lebih setelah keluarnya Resolusi Jihad tentang kewajiban perang melawan penjajah dari KH. Hasyim Asy’ari. Peristiwa-peristiwa besar setelah itu, seperti 10 Nopember, Bandung Lautan Api, dan Palagan Ambarawa terkait erat dengan keluarnya fatwa jihad tersebut. Pengaruh fatwa Resolusi Jihad benar-benar membakar semangat para pejuang kala itu.

Apakah semangat seperti itu masih ditanamkan pada generasi muda oleh ulama-ulama sekarang?

Ya, semangat seperti itu tetap ditanamkan oleh para ulama. Hanya saja tidak berbentuk perang secara fisik lagi, tapi lebih kepada untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang sesuai dengan cita-cita para ulama yang telah berjuang dulu. Bentuk mengisi kemerdekaan itu bisa seperti memerangi kemiskinan, membina dan memperbaiki akhlak masyarakat, dan lain sebagainya.

Tentang perhatian pemerintah terhadap ulama?

Memang perhatian Pemerintah terhadap para ulama masih kurang, terutama saat Orde Baru, saat itu jasa ulama tidak diakui sama sekali. Agaknya waktu itu tidak ada yang boleh mengatakan bahwa ulama telah berjasa terhadap kemerdekaan Bangsa ini. Para ulama benar-benar dikhianati. Tapi sekarang tidak lagi, saat ini sudah lebih baik dari zaman Orde Baru dulu.

Seharusnya bentuk penghargaan seperti apa yang diberikan Pemerintah kepada ulama?

Untuk menghormati para ulama, paling tidak apa yang diperjuangkan oleh ulama dulu tetap dilanjutkan oleh pemerintahan sekarang, seperti pembinaan agama dan akhlak masyarakat, peningkatan kesejahteraan, keamanan, dan ketenangan masyarakat dalam beraktivitas. Pemerintah harus juga memperhatikan pesantren-pesantren, karena pesantren-pesantren itulah yang menjadi basis-basis perjuangan kemerdekaan dulu. Sekalipun para ulama tidak memintanya, keharusan pemerintahlah untuk memperhatikannya.

Selain itu, pemerintah seharusnya menjalankan hukum-hukum para ulama. Karena sesungguhnya pemerintah itu yang mengatur masyarakat, dan pemerintah tidak mengatur ulama, tetapi pemerintah menjalankan hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh para ulama. Jadi, posisi ulama dalam pemerintahan adalah sebagai penetap hukum, dan pemerintah yang menjalankannya di tengah masyarakat. Seharusnya seperti itu penghargaan yang diberikan oleh pemerintah kepada ulama yang telah sangat berjasa besar terhadap kemerdekaan Bangsa ini. []

Nama: KH KHOTIB UMAR
Kelahiran: Jember, 1941
Alamat rumah: Sumberwringin Sukowono Jember
Alamat kantor : PP. Raudlotul Ulum
Telepon/HP: 0331-7852699
Pendidikan: PP. Raudlatul Ulum, Jember
Jabatan: Mustasyar PWNU Jawa Timur, Pengasuh PP. Raudlatul Ulum, Jember
Aktivitas: Mengasuh PP. Raudlatul Ulum, Berdakwah, Mengajar.

Poskan Komentar

HOME | ABOUT

Copyright © 2011 PERMATA HATI | Powered by BLOGGER | Template by 54BLOGGER